Sabtu, 07 Maret 2009

Tiga Orang Tamu

Bismillahirrahmanirrahim

Tiga Orang Tamu

Dikirim 1 oleh : Dyah Nastiti K.
Dikirim 2 oleh : Michele Indri M.



Suatu ketika, ada seorang wanita yang kembali pulang ke rumah dari perjalanannya keluar, dan ia melihat ada 3 (tiga) orang pria berjanggut yang duduk di halaman depan. Wanita itu tidak mengenal mereka semua. Wanita itu berkata dengan senyumannya yang khas: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti orang baik-baik yang sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk mengganjal perut".

Pria berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang?", Wanita itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar". "Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali", kata pria itu.

Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini". Wanita itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam. "Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama" , kata pria itu hampir bersamaan. "Lho, kenapa?", tanya wanita itu karena merasa heran.

Salah seseorang pria itu berkata, "Nama dia Kekayaan,", katanya sambil menunjuk seorang pria berjanggut di sebelahnya, "sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu pria berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Kasih-Sayang. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu".

Wanita itu kembali masuk ke dalam, dan memberitahu pesan pria di luar. Suaminya pun merasa heran. "Ohho...menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan.".

Begitulah kebanyakan manusia, menganggap kekayaan sebagai sumber kemulian. Padahal kisah panjang tentang kekayaan sering membuat seseorang justru tenggelam bersamanya. Ingat, Fir'aun dan Karun, keduanya kaya-raya, tetapi apa yang terjadi pada mereka?. Kebinasaan. Oleh karenanya Musa a.s pernah berkata sebagaimana dikisahkan dalam Al Qur'an, "Musa berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau." (QS. Yunus, 10:88).

Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen ladang pertanian kita.". Kesuksesan, muaranya tidak jauh berbeda dengan kekayaan – kesenangan hidup. Sukses di suatu bidang, jika ia petani – hasil panen. Jika ia pegawai tidak sedikit yang menganggap pangkat adalah segalanya. Ujung-ujungnya, lagi-lagi kekeyaan.

Allah SWT berfirman, "Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)." (QS. Ali Imran, 3:14). Ya, semua itu kesenangan hidup di dunia.

Dalam ayat lain, firman-Nya berbunyi, "Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu." (QS. Al Hadid, 57:20). Ternyata kehidupan dunia hanyalah kesenangan semu, dan bersifat menipu.

Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Kasih-sayang yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Kasih-sayang.". Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Kasih-sayang ini ke dalam. Dan malam ini, Si Kasih-sayang menjadi teman santap malam kita.". Wanita itu kembali ke luar, dan bertanya kepada ketiga pria itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Kasih-sayang?. Mari, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kami malam ini.".

Si Kasih-sayang berdiri, dan berjalan menuju beranda rumah. Oh.. ternyata, kedua pria berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, wanita itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. "Aku hanya mengundang si Kasih-sayang yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga?".

Sesaat kita berhenti sejenak, ada apa dengan `Kasih Sayang'?. Apakah kasih sayang melebihi segala kekayaan dan kesuksesan?. Coba kita tengok ayat-Nya yang berbunyi, "Katakanlah: "Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah". Dia telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang.". (QS. Al An'aam, 6:12). Lalu dalam ayat berikutnya, "Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang," (QS. 6:54). Rabbukum `alaa nafsihir-rahmata. Allah adalah Kasih Sayang. Dia sumber dari segala sumber kasih sayang.

Ketika mendengar pertanyaan wanita, kedua pria yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Kasih-sayang, maka, kemana pun Kasih sayang pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Kasih-sayang, maka kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami berdua ini buta. Dan hanya si Kasih-sayang yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.".

Taburilah hati kita dengan benih kasih sayang, ia hidup dan melihat. Kasih sayang tidak buta, ia akan menuntun siapapun menggapai kekayaan dan kesuksesan hakiki. "Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya;" (QS. Fathir, 35:2). Menurut Imam Al Ghazali, bahwa rahmat (kasih sayang) telah dicurahkan dengan ketetapan sifat murah dari Allah SWT yang tidak akan tertahan oleh siapapun, tetapi rahmat itu sungguh akan tampak pada hati yang bersedia untuk menerima pemberian Tuhan. Firman-Nya (QS. 21:107), "Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar